MASTERING Digital SLR Photography

image

Photography with digital SLR and “SLR-like” cameras isn’t exactly like conventional film SLR
photography. Nor is it exactly like digital photography with non-SLR cameras. The dSLR has
special advantages, special features, and special problems that need to be addressed and
embraced. In addition, those of you who work with these cameras tend to expect more from
your photography and crave the kind of information that will let you wring every ounce of creativity
out of your equipment.
Some of your questions involve the equipment. What are the best and most cost-effective accessories
for digital SLRs? What are the best lenses for portrait photography, or sports, or closeups?
What’s the best way to deal with shutter lag—or doesn’t it exist with dSLRs? Is it possible
to use accessories accumulated for a film version of the same vendor’s camera?
Other questions deal with photography and how to apply the advanced capabilities of dSLRs
to real-world picture taking. What are the best ways to use exposure features creatively? How
can pictures be better composed with a dSLR? Selective focus is easier with digital SLRs than
with other models; how can it be applied to improve compositions? Now that digital cameras
with almost zero shutter lag are available, what are the best ways to capture a critical moment
at an exciting sports event? How can you make your family portraits look professional? What’s
the best way to create a last-minute product shot in time to get it on your company Web site?
You’ll find the answers in Mastering Digital SLR Photography.

This isn’t a general digital camera book. It’s a book about digital SLR photography: how to take
great pictures with the newest cameras and make great images that leverage the strengths of
computer technology, while taking into account the special needs of digital cameras. Minutes
after cracking the covers of this book, you’ll be able to grab action pictures that capture the
decisive moment at a sports event; create portraits of adults, teens, and children that anyone
can be proud of; and understand how to use the controls of your dSLR to optimize your images
even before you transfer them to your computer. This is the book that will show you how to
explore the fascinating world of photography with digital technology.
The heavy hardware discussions enrich the introductory material in the first few chapters, giving
the basic information needed to choose and use a digital SLR camera and to satisfy curiosity
about what goes on inside. Readers don’t need to understand internal combustion to drive
a car, but, even so, it’s a good idea to know that an SUV may roll over during hairpin turns.
The nuts-and-bolts portions of this book won’t teach readers about internal combustion, but
will help them negotiate those photographic hairpins.
I’m especially proud of the hefty illustrated glossary I put together for this book. It’s not just a
word list, but, instead, a compendium of definitions of the key concepts of photography. You’ll
find all the most important terms from this book, plus many others you’ll encounter while creating
images. I’ve liberally sprinkled the glossary with illustrations that help clarify the definitions.
If you’re reading this book and find something confusing, check the glossary first before
you head to the index. Between the two of them, everything you need to know should be at
your fingertips.

Hari ini aku menulis kembali sesuatu


Apa yang sedang kubaca adalah sebuah novel yang sangat bagus (kurasa) dari Chinua Achebe berjudul Things Fall Apart. Sebenarnya sudah dua minggu yang lalu aku selesai membaca novel ini. Tapi semangat dan caranya dalam menulis memberiku wawasan baru tentang bagaimana menulis sebuah cerita. Cara kerangka sebuah tulisan dibuat, mengembangkan arus cerita, akan terasa sangat menyenangkan saat kita membaca buku ini sampai habis. Terlebih plot yang dikembangkan begitu sederhana dan mudah, begitu pun dengan tema yang menjadi latar belakang cerita akan memperkaya wawasan kita dalam waktu singkat.

Yang kudapat dari buku ini setelah selesai membacanya adalah beberapa "pelajaran" menulis. Entah pantas atau tidak, tapi beberapa contoh itu adalah:
1. Sebelum benar-benar menuliskan sesuatu, pikirkan apakah kalimat/kata yang kau tuliskan benar-benar berguna atau tidak. Dengan kata lain, apakah kata/kalimat itu pantas berada di atas kertas/layar monitormu. Jangan mubazir dengan kata. Ini serius. Begitu kau tahu efeknya, pembaca akan semakin serius mendalami tulisanmu (tentu, tergantung segmentasi pembaca yang kau pilih).
2. Buat sebuah cerita dalam setiap bab (untuk novel). Buku ini dengan sangat anggun sekali menunjukan hal itu dan ceritanya tidak keluar kemana-mana/tertuju kepada satu tujuan akhir (yaitu tema utama cerita).
3. Rebut hati pembacamu dengan pendalaman karakter dan sifat tokoh. Oh, ini akan sangat penting sekali.

Ini hanya pendapat pribadi dan pengalaman yang terbentuk dari membaca dan menulis. Kalau ini membantu siapa pun yang membacanya, aku akan sangat senang sekali.

Bom itu meledak di saat yang tak tepat…

Saya menjadi terlalu sentimentil dan kehilangan sentuhan untuk berpikir dan berkata-kata di layar monitor seperti yang saya lakukan seharusnya. Ada banyak pertimbangan yang saya pikirkan sebelum mengeluarkan tulisan. Tapi ini adalah catatan yang saya buat saat saya tidak lagi merasa senang dengan kejadian di Jakarta akhir-akhir ini. Puncaknya terjadi kemarin ketika bom meledak di dua buah hotel di kawasan Mega Kuningan.

Dampak dari hal ini adalah melemahnya kepercayaan dunia yang implikasinya langsung bisa kita rasakan, yaitu batalnya pertandingan Manchester United dengan Indonesia All Star. Walaupun terlibat banyak hal, termasuk berbagai pertimbangan di dalamnya mulai dari sponsor hingga hiburan masyarakat banyak; kejadian ini sangat tidak diharapkan untuk terjadi, terlebih momentumnya terasa sangat pas (bagi teroris) namun sangat merugikan (bagi bangsa ini).

Kejadian hari Jumat kemarin adalah sebuah catatan pilu yang sangat melukai bangsa ini. Sebuah momentum untuk membuktikan keamanan Indonesia pada dunia sedang beranjak naik sebelum kejadian ini terjadi. Ada pun yang harus kita lakukan adalah: mencoba menjaga siklus positif yang sebelumnya terjadi agar tidak terlampau jatuh terlalu dalam, menangkap pelaku dan menghukum sesuai hukum yang berlaku. Kedua hal itu setidaknya dilakukan agar dunia tahu Indonesia berupaya menciptakan stabilitas keamanan dan politik hingga ekonomi yang aman pasca pemilu dan kemenangan SBY.

Presiden SBY harus bisa menggunakan citranya untuk hal yang berguna kali ini. Bagaimana dia bisa menggerakkan masyarakat untuk mengerti pokok permasalahan bahwa Indonesia sedang darurat, gawat, dan kritis, sebagai dampak dari serangan bom.

Bagi kita, ini adalah persoalan bersama. Persoalan yang menuntut persatuan yang utuh dari seluruh elemen bangsa dan masyarakat. Semua hal mengenai terorisme bukanlah sesuatu yang baru bagi bangsa Indonesia. Dan sejarah membuktikan kita selalu bisa melawan perubahan yang tergesa-gesa, termasuk yang dilancarkan kaum teroris kali ini.

suatu hari di bilik suara

kita berharap suatu hari nanti kedamaian akan menemukan tempat di hati kita..

Dua hari lalu, tempat itu penuh dengan kerumunan manusia.

Tubuh mereka pernah pergi begitu jauh dari tempat mereka di lahirkan. Di Aceh, Papua, Sumatera dan tempat lainnya.

Beberapa jam yang lalu pada dua hari yang lalu, dua orang calon pemimpin mempermasalahkan legitimasi prosedural pemilu.

Kini kita tinggal berharap permasalahan itu selesai.

Pada pagi yang cerah kita bangun dengan semangat luar biasa.

Menunggu giliran untuk tiba.

Dan mencentang kekuasaan di bilik suara.

Tapi entah akan kemana kekuasaan itu kelak, kalau sudah terpilih.

Sebuah rokok dinyalakan petugas TPS, hingga terlewat beberapa orang.

Mungkin dengan uang kita bisa membeli kemenangan.

Lalu beberapa orang tiba, dengan harapan tidak ada kecurangan.

Para juru berita sibuk berkata-kata.

Ini adalah hari kita, walau kita bukan siapa-siapa.

Di hari ini kita berubah menjadi satu suara.

Karena dengan hukum, suatu perbedaan diharuskan menjadi sama.

Betapapun berat tapi sungguh mulia.

dan tibalah harinya, ketika kita bersatu menjadi satu suara..

Kertas

buat pilpres 2009

Tuan itu bergerak, berkata-kata, menebarkan pesona wajahnya lewat serangkaian mimik meyakinkan. Diselingi oleh berita keberhasilan motif antah-berantah, kita jadi ingin tahu; dan mengernyitkan dahi sembari bertanya-tanya siapa kita, sehingga bisa diberi peneguhan begitu gampangnya lewat iklan--serangkaian bentuk indah--yang terawat itu?

Panorama dibentuk oleh sekotak kaca. Iklan--begitu media visual menamakannya--pada saat ini menjadi primadona di televisi kita. Presiden bukanlah komoditi, ia letak jabatan; sebuah preseden mulia yang amat tragis dalam arti dan kesungguhan motif aksi yang mungkin akan terjadi kelak jika proses politis itu ditasbihkan. Kita tidak sedang ingin menggugat sebuah tujuan mulia lewat proses demokrasi yang sedang terjadi, tapi seharusnya sebuah "terkaman kritis" mampu menggerakkan thought, pemikiran kita atas apa yang terjadi di balik layar. Sebuah film bisa dilihat dari siapa sutradara dan produsernya, kalau kita mau.

Kita melihat sebuah media yang berpotensi menyebarkan informasi apapun pada masyarakat. Kesederhanaan sifat media ini justru menjadi "pesan" yang terlalu ramah dari segi fundamental namun agresif ketika berhadapan dengan proses visual. Harus ada yang menyinggung: kecenderungan masyarakat melihat bentuk media telah berubah. Mengutip sejarah panjang media, kita tidak lagi percaya media mampu merubah pemikiran kita dalam jangka pendek. Akhirnya media dilihat sebagai sebuah gaya hidup yang sedang merubah substansi masyarakat dalam berbudaya.

Visualisasi sendiri tidaklah tabu namun sejatinya sangat keras. Ia merobek tatanan budaya masyarakat yang sedang terpuruk karena tidak mengetahui jati dirinya sendiri. Nampaknya layang-layang, masyarakat kita adalah layang-layang yang putus; yang dapat terbang kemanapun angin berhembus.

Melihat kecenderungan peran media dan pemilu saat ini sangat aneh. Tapi bukankah begitu demokrasi? Terlebih kita harus mengakui proses demokrasi di tanah subur ini masih sebatas prosedural saja, belum substansial. Apakah Anda percaya debat itu adalah debat bukan mono?

Seharusnya ada yang lebih pantas dilakukan bersama-sama ketimbang mempermasalahkan bagaimana menang dengan segala cara. Tapi begitulah politik: adalah arena untuk melakukan strategi dengan cara pandang kepentingan masing-masing. Kita harus tahu ada yang mungkin munafik ada yang tidak.

Ketika yang munafik itu berjalan pada sistemnya, mungkin dia yang berkuasa. Tapi sejarah sebagai tujuan mulia seakan dilupakan. Roda pragmatisme memang cepat ketimbang sebuah dokar ideologis yang lambat membawa penumpangnya, tapi itu akan membawa tawa-senang jauh di kemudian hari.

Ada cara yang lebih pantas, ada cara yang lebih hebat ketimbang kotak
kaca yaitu kertas.


Ketika bicara kertas, saya bicara tulisan. Tulisan adalah awal sejarah. Dan sebuah bangsa harus meletakkan sejarahnya pertama kali di tulisan. Lewat individu-individu seperti kita--generasi muda dengan optimisme--agar permasalahan bangsa ini tidak digugat lagi lewat iklan, sebuah visualisasi yang tampaknya berbentuk rendah; dibikin untuk dinikmati namun tidak untuk dicerna. Agar sang tuan tidak lagi terlalu perkasa.

Iklim III

Pertarungan dengan iklim menjadi begitu luar biasa. Ketika pertanyaan menjadi sesuatu yang sangat besar; begitu pun dampak yang dihasilkan. Tetapi apa yang bisa kita lakukan? Kekayaan yang dimiliki alam semesta tidak akan bisa ditulis oleh segaris teori yang dipikirkan para ilmuwan. Begitu pun kekayaan manusia, pikiran, perbuatan mereka; tidak akan bisa membuka cakrawala dunia yang begitu maha dahsyatnya.

Einstein, seorang maha pikir abad ini melukiskan teori relativitas yang membuka wawasan bahwa waktu bukan sesuatu yang absolut melainkan melar; terlampau jauh dari titik si pengamat dan pelaku. Masalah waktu ini akan bergerak dan menyentuh dimensi massa, sehingga kemudian melontarkan gagasan gila: mesin waktu.

Namun itu adalah sebuah daerah science fiction dan kita tidak akan membahasnya disini. Saya akan mengatakan kalau waktu tidak akan menunggu dalam masalah iklim sebagaimanapun ia melar dan melompat-lompat seperti Einstein katakan.

Masalah iklim adalah masalah buru-buru, secepatnya dan luar biasa. Untuk apa iklim ada bagi kita? Untuk apa kesenjangan antara rusak dan tidak rusak itu terjadi? Kalau kita mau menggunakan akal sehat kita dalam satu menit terakhir ini, berapa banyak masalah iklim yang kita pedulikan? Berapa banyak kesenjangan peduli dan tidak peduli itu terjadi?

Sungguh, iklim akan menangis begitu ia mendengar ini.

Einstein di Sekolah adalah Anak Bodoh

Saya beberapa tahun yang lalu berjalan-jalan di kota kecil di Jerman Selatan. Seorang teman, yang mengawini saya; sekonyong-konyong berhenti, dan sambil menunjuk kepada jendela di atas sebuah toko makan dan minuman, berkata:

"Engkau lihatlah ruangan kecil itu? Di situlah Einstein dilahirkan."

Sore harinya, saya menemui paman Einstein, bercakap-cakap dengan dia. Akan tetapi tak ada kesan bahwa ia adalah orang yang memiliki bakat atau kecakapan luar biasa. Akan tetapi ini tak mengherankan, karena Einstein sendiri masih kanak-kanak, tak ada orang yang mengira bahwa ia pandai, apalagi luarbiasa. Sekarang ia dianggap sebagai maha cendekiawan abad ini, salah satu ahli pikir paling pandai dalam sejarah manusia; ketika masih kecil, ia adalah anak lamban; kemalu-maluan dan bodoh. Ia sukar belajar, bahkan berbicarapun sukar. Ia demikian bodoh, sehingga guru-gurunya sendiri menganggapnya sebagai anak menjemukan dan malah orang tuanya kuatir ia kurang normal.

Einstein kaget, bahwa pada suatu hari ia dinyatakan sebagai salah seorang termasyhur di dunia. Sama sekali tak bisa dipercaya bahwa seorang profesor ilmu pasti namanya disebut-sebut di koran dengan huruf-huruf besar dan menjadi sama masyhurnya dengan Jack Dempsey. Ia mengakui bahwa ia sendiri tak mengerti. Tak ada orang yang bisa mengerti. Suatu peristiwa yang tak pernah terjadi dalam sejarah umat manusia.

Albert Einstein orangnya sama anehnya seperti Teori Relativitasnya. Ia sama sekali tak mengingini hal-hal yang sangat dihasratkan oleh kebanyakan orang--kemasyhuran, kekayaan, kemewahan. Pernah, seorang kapten kapal samudera pada suatu hari mau memeberikan kamar kapal paling bagus dan mewah kepadanya; akan tetapi Einstein menolak dan mengatakan, ia lebih suka menumpang geladak tengah daripada mendapat perlakuan istimewa.

Ketika Einstein mencapai umur limapuluh tahun, Jerman memberi tanda-tanda kehormatan banyak sekali kepadanya, mendirikan patung untuknya di Postdam dan menghadiahkan sebuah rumah dan kapal layar sebagai tanda cinta dan rasa kagum bangsa Jerman yang tak kunjung padam.

Akan tetapi beberapa tahun kemudian milik-milik pribadinya dirampas dan ia takut pulang ke tanah air. Berminggu-minggu lamanya hidup di Belgia di belakang pintu berlapis dan seorang pegawai polisi setiap malam tidur di samping tempat tidurnya.

Ketika ia sampai di New York untuk memangku jabatan Profesor Matematika pada Institute for Advance Study di Princeton, ia berusaha keras mengelakkan wartawan-wartawan dan wawancara-wawancara maupun sambutan-sambutan yang terlalu meriah. Maka kawan-kawannya dengan diam-diam mengambilnya dari kapal dan melarikannya dengan mobil.

Kata Einstein di dunia ini hanya ada duabelas orang yang memahami Teori Relativitasnya, meskipun lebih dari sembilan ratus buku ditulis untuk mencoba menerangkannya.

Ia sendiri menerangkan Relativitasnya itu dengan lukisan sederhana: jika Anda duduk di samping seorang wanita cantik selama satu jam, Anda menganggapnya hanya satu menit, akan tetapi jika Anda duduk di atas sebuah tungku panas selama satu menit, maka seperti satu jam.

Ai, inilah relativitas. Bagi saya, ini cukup memuaskan. Tapi kalau Anda tak percaya, marilah kita mengadakan percobaan, saya yang duduk dengan wanita dan Anda di atas tungku.

Berbicara tentang wanita, Einstein telah dua kali kawin. Dari istri pertama ia mendapat dua anak laki-laki, keduanya cemerlang, ada tanda-tanda zeni.

Ny. Einstein mengakui bahwa ia pun tak mengerti Teori Relativitasnya; akan tetapi ia mengerti satu hal yang lebih penting bagi seorang istri: ia memahami suaminya.

Biasanya istrinya mengajak beberapa temannya bersama-sama minum teh dan ia minta sang profesor menyertai mereka. "Tidak!" jawab Einstein dengan keras. "Tidak! Saya tak mau. Saya tak mau. Saya akan pergi dari sini. Saya tak bisa bekerja di sini. Pendeknya, saya tak mau diganggu lebih lama lagi."

Frau Einstein lalu berdiam diri sampai dada suaminya lega; kemudian, dengan sedikit diplomasi ia berhasil mengajak suaminya turun dari ruangan atas, minum teh dan beristirahat sebentar.

Frau Einstein mengatakan suaminya suka akan tata-tertib dalam pikirannya, akan tetapi tidak dalam kehidupannya. Ia laksanakan apa yang ia inginkan dan kapan saja ia mau. Ia hanya dua peraturan: yang satu. Jangan ada aturan. Kedua. Bebaslah dari pendapat-pendapat orang lain.

Hidupnya sangat sederhana, ia biasa mengenakan pakaian lama yang tak perlu disetrika, jarang bertopi, suka bersiul dan bernyanyi dalam kamar mandi. Ia mencukur kumis dan jenggotnya dalam kolam mandi dan tak memakai sabun cukur.

Ia menggunakan sabun mandi untuk cukur. Orang yang mencoba memecahkan teka-teki alam semesta ini mengatakan bahwa menggunakan dua macam sabun membikin hidup ini terlalu ruwet.

Einstein memberi kesan kepada saya, bahwa ia adalah orang yang sangat berbahagia. Filsafat kebahagiaannya bagi saya jauh lebih penting daripada teori relativitasnya. Saya anggap ini sebagai filsafat yang sangat bagus. Katanya, ia berbahagia karena tak menginginkan apa-apa dari orang lain. Ia tak memerlukan uang, gelar-gelar atau pujian-pujian. Ia menciptakan kebahagiaan sendiri dari hal-hal sederhana, misalnya bekerja, bermain biola dan belajar.

Biola Einstein menciptakan lebih banyak kenikmatan dari apa saja dalam hidupnya. Katanya, ia sering berpikir dalam musik dan mengalami mimpi-mimpi siangnya dalam musik pula.

Pada suatu hari sambil menumpang trem di Berlin ia mengatakan kepada kondektur bahwa uang kembalinya tak betul. Kondektur menghitung uang tersebut yang ternyata betul dan ia kembalikan kepada Einstein seraya berkata: "soalnya, Tuan tak tahu ilmu hitung!"