BHIR BLOG
Senin, Desember 26, 2011
setelah hari ini
Minggu, Desember 11, 2011
Sembilan: Pendefinisian ulang hiburan: Jenis perencanaan tema, bentuk, dan karakter pertelevisian
Senin, Maret 14, 2011
Kontemplasi #1
Aku, sebagai manusia, hanya mampu menjalani, apa yang sudah menjadi bahan dan bumbu makanan permainan kehidupan.
Tuhan mengerti, sebagai koki terbaik, apa yang harus diperlukan agar semua menjadi siap dalam beberapa tahun.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
Rabu, Januari 12, 2011
Delapan: Kesalahan Program Acara Siaran Televisi, dari Sinetron ke Opera Sabun
Sinetron
Program acara televisi yang disebut sinetron adalah program utama (primetime) pada sebuah stasiun televisi hiburan utama. Kita bisa melihat contoh RCTI dan SCTV sebagai dua stasiun televisi hiburan utama di tanah air.
Opera Sabun
Opera sabun lebih banyak disiarkan oleh stasiun televisi di tanah air. Hampir seluruh stasiun televisi di tanah air memiliki program acara siaran berjenis ini. Karakteristiknya pun beragam. Pada opera sabun, kewajiban televisi dalam memasukkan unsur lokal mulai mendapatkan tempat, walaupun masih sebatas orientasi karikatural karakter tokoh semata. Contoh, Islam KTP di SCTV dan OVJ di Trans 7.
Kesalahan bukan Pembenaran
Apa yang dimaksud dengan kesalahan adalah sesuatu yang mungkin bisa diperbaiki dalam program acara siaran televisi. Kedua kelompok tersebut memiliki pembenaran yang juga khas.
Sinetron: lebih kepada alur dan tokoh
Sinetron sudah memiliki jenis skenario yang telah jauh melenceng dari pembelokan makna sebenarnya akan seni film. Dalam sinetron sekarang, makna film sebagai cerita gambar diturunkan menjadi sekadar makna oral (bertutur) sehingga apa yang harus dimengerti pemirsa dapat diketahui hanya dengan mendengar si tokoh bicara, dengan demikian esensi cerita sebagai gambar bergerak tidak berlaku lagi selain hanya sebagai properti skenario belaka. Kesalahan ini mungkin sengaja diperbuat sekadar menghasilkan sensasi dalam cerita, alur dan karakter tokoh yang semuanya mendukung sistem kapitalisme industri siaran televisi.
Opera Sabun: minim pilihan dalam hiburan
Opera sabun bisa disebut sebagai alternatif lain dalam mencari hiburan di televisi. Tapi, pilihan hiburan tersebut ternyata memiliki kritik yang sangat besar pada pencarian tema dan penjelasan kepada penonton lewat pembenaran moral. Moral dan etika negara saat ini sedang bobrok dilihat dari ketidakpercayaan publik terhadap politik, lembaga negara, dan perangkat negara. Di sebuah negara dengan demokrasi yang sudah sangat matang, unsur hiburan bisa dengan mudah menyatu dengan sebuah kritik yang menyinggung isu-isu sensitif, termasuk pribadi pimpinan negara. Tapi di sini, agaknya hal semacam itu masih dilihat sebagai sesuatu yang kurang menarik untuk dipikirkan, terimakasih kepada penangguhan penyelesaian kasus hukum besar seperti century yang sampai sekarang entah dimana hasilnya, kasus gayus yang makin hari makin bikin geleng-geleng kepala, semua itu menjadikan ruang publik terisi dengan guyonan yang sekadar sensasional (seperti pada sinetron) karena publik capek dengan segala sesuatu yang substansial karena hal tersebut dapat dinikmati lewat berita-berita, dan melihat kenyataannya, ternyata hal substansial tersebut--yang direspon positif oleh publik--ternyata mendapatkan peneguhan oleh pemerintah dengan penurunan makna hukum menjadi hampir nol.
Sabtu, Desember 11, 2010
Tujuh: Rahasia dalam Industri Perfilman, singkatkata
Industri film layar lebar dan sinetron Indonesia di awali dengan perkenalan di sebuah bioskop tua: gedungnya sepi penonton, hasil proyektor yang dipakai untuk menayangkan adegan demi adegan di layar putih tersebut sudah bergaris. Kursi penonton cuma tinggal separuh. Di bagian sayap kiri dekat pintu masuk bahkan beberapa kursi telah tercerabut dari beton yang menancapkannya dulu disana, bagian pantatnya hancur, menjadi beberapa bagian di sisi selatan bioskop tua tersebut: Rolex Estate namanya.
Diantara bangku kosong bioskop tua tersebut yang hanya ditonton oleh belasan, sebelas orang, terselip pemuda dungu, ringkih, sedang menatap serius ke layar putih tanpa kata. Entah telah berapa kali film tersebut diputar, menayangkan adegan-adegan Bruce Lee menendang lawannya sampai terjungkal.
Gerakannya kadangkali berpindah. Postur tubuhnya tidak nyaman, dagunya dipegangnya, pantatnya diangkat, lalu didudukan lagi. Tapi yang satu tidak berubah, mata dan mimik wajahnya mengatakan tidak pernah berpindah dari film yang ada di depannya.
Pemuda tersebut adalah Raam Punjabi, raja sinetron Indonesia kini, masih berusia 15 tahun dan baru pertama kali datang ke Jakarta. Minatnya terhadap film sudah diperoleh sejak usia delapan. Gairah tersebut ia khususkan lagi menjadi seorang pembuat film, bukan pemain film.
Ternyata, perkenalannya yang singkat dengan film tersebut berhasil. Dengan semangat luar biasa membara, ia tekadkan bulat diri untuk bertarung di dunia perfilman, yang pada waktu itu, tahun 1960-an, masih menjadi belantara asing dalam lahan industri kreatif Indonesia.
Bagaimana ceritanya, sehingga Raam Punjabi berhasil menjadi raja, atau kaisar—sebagaimana disebutkannya sendiri—sinetron Indonesia sekarang ini lewat PH Multivision Plus miliknya tersebut?
Saya tidak tahu. Tulisan ini secara khusus tidak akan membahas hal tersebut. Bentuk penulisan ini pun akan lebih berat sebelah ke tulisan artikel, bukan feature. Saya tidak pernah mewawancara Raam Punjabi. Lead tulisan yang saya tulis diatas pun lebih kepada omong kosong belaka. Tidak ada bioskop yang namanya Rolex Estate di Jakarta pada 1960-an.
Satu-satunya yang fakta mengenai Raam Punjabi di awal tulisan adalah satu hal, mengenai gairahnya akan film dan cita-citanya menjadi seorang produser, bukan pemain film. Omong-omong tentang Raam Punjabi, saya menjadi teringat tentang dunia sinetron Indonesia sekarang ini. Sebagai sebuah tontonan keluarga yang menjadi hiburan, dunia kreatif sinetron sungguh terjun bebas ke pretensi industri sederhana, lewat kapitalisme dunia siaran dan modal. Tidak adanya idealisme, itu yang menjadi kekhawatiran saya.
Raam Punjabi benar, ketika saya tahu dia bicara mengenai masyarakat sebagai sumber industri perfilman dalam mencari ide dan tema cerita. Dia hanya bicara sebagai bagian dari sebuah industri. Lantas, seperti apa bentuk yang ternyata masih harus dikompromikan antara industri dan nilai ideal yang seringkali abstrak?
Tidak tertutup, sebuah realitas justru terletak pada hal yang sederhana. Kita akan bicara mengenai hal ini nanti, saat setelah Raam Punjabi selesai menonton filmnya..
Senin, November 29, 2010
Enam: Kebebasan nilai Individu, potret dalam media program siaran televisi
Seperti kita ketahui terdapat nilai dan fungsi sosial televisi. Berbagai nilai dan fungsi sosial tersebut, pada dasarnya berakar pada pemaknaan televisi sebagai media komunikasi beranah dasar publik. Lihat manipulasi ruang publik lewat televisi.
Persoalan tiba ketika televisi melepaskan dirinya dari sebuah entitas nilai sederhana tersebut, yaitu publik. Ketika televisi mengubah dirinya menjadi kekuatan modal sederhana, publik sebagai akar televisi sebagai media komunikasi seakan terlupakan.
Kita ambil contoh:
Nilai-nilai dan norma-norma itu dirombak dengan sendirinya dan secara tidak sadar oleh acara-acara televisi dengan sifat-sifat media massa yang khas. Agaknya kita harus mengakui bahwa era baru telah datang, walaupun hal ini perlu penelitian lebih lanjut. Sebagai contoh, program realitas seperti termehek-meke, uya juga kuya dan ajang pencarian bakat sejenis Indonesian Idol dimana kompetisi menjadi “nyawanya”, di satu sisi memungkinkan orang untuk mencari jalan dan perspektif baru dalam meraih impian mereka. Namun, sekelompok orang yang belum tersentuh implikasi dan tidak mengerti maksud dan tujuan media massa secara sosial—katakanlah sekelompok masyarakat berpenghasilan rendah dan kurang secara pendidikan—dapat melihat fenomena ini sebagai tumbuhnya nilai-nilai yang sesuai bagi mereka. Hal ini, meminjam Roland Barthes, bisa dikatakan sebagai pemaknaan tanda berdasarkan pengalaman kultural seseorang yang pada akhirnya menghasilkan mitos.
Pertanyaan terbesarnya, dimana kebebasan individu mendapat tempat jika setiap orang mudah disetir karena nilai sesuai mudah diforsir dan dipreteli perangkat-perangkatnya? Sistem ideal belum berlaku.
Selasa, November 23, 2010
Edukasi yang Menggigit
Apa yang bisa membuat Jenny mengingat David?
Itulah perkecamukan yang muncul dalam cerita film berdurasi sekitar 90 menit ini. An Education adalah sebuah film yang ditulis oleh Nick Hornby sebagai adaptasi memoir Lynn Barber, seorang jurnalis Inggris. Memoir tersebut berdasarkan kisah cinta masa sekolahnya. An Education dimainkan oleh Carey Mulligan yang tampil brilian sebagai remaja dewasa berusia 16 tahun bernama Jenny. Jenny memang masih anak sekolahan, tapi cara pikirnya seperti orang dewasa, bahkan terlalu maju untuk ukuran zaman itu. Mengambil latar pada 1962 di Inggris, Jenny awalnya hanya gadis remaja yang punya mimpi kuliah di Oxford, perguruan tinggi prestisius di Inggris.
Awalnya, ada cowok yang naksir dia. Si cowok ini, Graham (diperankan dengan cerdas oleh Matthew Beard), adalah cowok baik-baik, yang bisa dikatakan bukan kutu buku, tapi kurang pandai bergaul, sikapnya yang “kurang tegas sebagai lelaki” membuat Jenny berpikir dua kali untuk serius dengannya. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Tanpa sengaja Jenny bertemu David di jalan saat hujan dengan mobil bagusnya (selanjutnya diperkenalkan sebagai pebisnis properti dan seni). David yang jauh lebih dewasa daripada Graham dengan cepat membuat Jenny terpesona pada pertemuan pertama.
Pertemuan dengan David tidak cuma membuat Jenny “shok” secara umur, tetapi pergaulannya bersama kedua pasangan teman David, Danny (Dominic Cooper) dan Helen (Rosamund Pike) membuatnya memperoleh dunia yang sama sekali baru. Jika pada awalnya Jean cuma belajar bahasa Perancis dan Bahasa Latin untuk masuk Oxford, maka David memberikan pengalaman “dunia luar” padanya.
Jenny menjadi potret masyarakat Inggris pada saat itu, setidaknya itu yang ditampilkan lewat kesukaannya pada novel, bermain cello, terlahir dari ayah yang “membenci” Prancis dan mementingkan pendidikan anaknya. Lewat hal sederhana yang berputar pada diri Jenny inilah konflik bermula.
Pada awalnya David mendapat kesulitan untuk mengajak Jenny ke Paris, tapi kecerdasan David yang dalam film adalah seorang Yahudi (plus selalu disinggung terutama lewat percakapan antara David dan ayah Jenny), selalu mempermudah segalanya. Seiring berjalannya waktu, hati keluarganya (ayah dan ibu) Jenny pun terambil oleh David. Sehingga pada awalnya cita-cita Jenny masuk Oxford mulai ditinggalkan. David melamar Jenny, keluarganya setuju, sekolahnya berantakan, gurunya mulai resah karena prestasi Jenny turun, tapi semua orang sudah tahu, termasuk Graham, bahwa David lah alasan utamanya.
Menggigit
Kita tidak mengharapkan percintaan semacam Romeo and Juliet pada film ini, yang penuh dengan ekspresi romantis juga nyinyir, tapi sebuah edukasi menggigit yang cuma bisa diterka saat film mulai memasuki 15 menit terakhir. Tapi memang, selain waktu 15 menit itu, film ini sepenuhnya menjadi milik Carey Mulligan, yang dapat memerankan sudut pandang gadis 16 tahun yang terpesona pada kehidupan dewasa, lewat pengaruh kuat yang dibawa David, ekspatriat yang jatuh cinta padanya lewat pandangan pertama.
Disinilah peran kejeniusan Carey yang sangat menguasai karakter Jenny. Terlihat jelas oleh kita, Jenny hanyalah seorang gadis 16 tahun yang mudah tergoda oleh materi. Lewat David, Jenny mendapatkan segalanya. Di sinilah titik batin yang sangat mudah digodok oleh Lone Scherfig, sutradara film ini.
Namun yang paling menarik dari segalanya selain unsur drama dalam film ini yang bisa dikatakan “cukup menarik untuk membuat nyaman” adalah pesan moralnya. Kita tidak sedang melihat film percintaan romantis seorang remaja terhadap pria kaya dewasa, tetapi sebuah pertentangan antara pendidikan dan cinta sebagai masa depan, mana yang lebih penting?
Film ini dinominasikan oleh Academy Awards 2009 sebagai best pictures, best actress, dan best adapted screenplay.
Judul Film: An Education (2009)
Pemain: Peter Sargaard, Carey Mulligan, Olivia Williaws, Alfred Molina, Cara Seymour, William Melling
Sutradara: Love Scherfig
Penulis Skenario: Nick Hornby (diadaptasi dari memoir Lynn Barber)