Senin, Desember 26, 2011

setelah hari ini

Setelah hari ini: aku mungkin akan memanggilmu kenangan
Seperti hujan yang tiba ketika pagi terlambat
Namun tetap hangat di bawah selimutmu
Aku akan tetap memanggilmu impian
Sebab kata tidak pernah menemukan bentuknya
Hanya inginmu yang terjebak jaring laba-laba
Diam di kota ketika waktu memenjara

Minggu, Desember 11, 2011

Sembilan: Pendefinisian ulang hiburan: Jenis perencanaan tema, bentuk, dan karakter pertelevisian

Pada sebuah bentuk sederhana: televisi menjadi teman bagi sofa yang kosong, dimana kita bisa tertawa melihat beberapa orang menjatuhkan dirinya pada properti panggung yang murahan. Di lain bentuk seperti itu, ada beberapa orang memerlukan sesuatu untuk dijadikan penegasan atas perannya selama ini: mereka mengekor satu per satu dan berjalan lurus, hanya mendapat arahan dari angka dan peringkat yang selama ini mereka sebut rating penonton.

Ada ironi di sini, sebuah definisi yang layaknya tidak dijadikan pegangan dalam beberapa tahun ke depan. Namun, tetap mendapatkan perannya secara sederhana dan berputar dalam sistem: komodifikasi, kapitalisme, dan pengulangan tema.

Hiburan adalah sebuah peran yang amat mahal bagi dunia pertelevisian, secara harfiah maupun praktis. Landasan dasarnya, kita bisa melihat ada permainan yang berputar dalam perencanaan bentuk, bukan dalam  keterampilan teknis dan kreativitas.

Bentuk itu berputar dalam opera sabun, sinetron, dan pertunjukan realitas (reality show).
Saya berpendapat perlu adanya perbedaan yang didasari pada pendefinisian ulang hiburan pertelevisian kini. Bentuk tersebut dapat diambil dari kritik terhadap teknis dan kreativitas acara hiburan tersebut.

Yang pertama, sinetron.
Sinetron (sinema elektronik) pernah mendapatkan kejayaannya pada acara “Si Doel Anak Sekolahan” (SDAS). Indikatornya sederhana, tidak muluk-muluk, tetapi terletak pada unsur teknis skenario.

Skenario yang baik memiliki protagonis yang bertujuan tunggal dan dalam prosesnya terdapat konflik yang menghambat protagonis untuk mendapatkan tujuannya. Hal ini pula yang menjadi jawaban kenapa ketika Doel lulus sarjana dan menjadi insinyur, cerita Doel pada dasarnya sudah tidak menarik lagi untuk pemirsa yang ditandai oleh meredupnya SDAS.

Sinetron sekarang? Itulah masalahnya. Terlalu banyak konflik, tidak memiliki protagonis, dan tidak memiliki tujuan akhir sehingga ceritanya seakan dibuat-buat dan bersambung terus.

Yang kedua, opera sabun.
Opera sabun atau yang lebih dengan tayangan semacam “Bajaj Bajuri,” “Keluarga Minus,” “Opera van Java”, berupaya memasukan unsur lokal ke dalam tayangan “nasional”.

Kata kuncinya adalah realitas daerah yang dimasukan dalam tayangan televisi lewat kreativitas cerita hiburan.
Masalah pada opera sabun adalah tidak konsistennya realitas fisik dengan realitas bohongan yang terdapat pada program acara hiburan.

Keberagaman budaya pada “Bajaj Bajuri” tidak memperlihatkan budaya betawi seperti pada Si Doel. Pada “Keluarga Minus”, budaya Papua hampir tidak diperlihatkan. Sementara itu, “Opera van Java” hanya meminjam kebudayaan Jawa yang diperlihatkan lewat pemeran dalang.

Yang ketiga, Reality Show.
Masalah reality show lebih kompleks lagi. Sebelum kita berdebat pada masalah kebenaran yang muncul dan berdiri di bawah embel-embel “realitas”, kita harus mengesampingkan hal itu dan mengerti jika semua sistem hiburan pertelevisian kini berada dalam pengaruh ekonomi politik.

Dalam ekonomi politik media, struktur sistem yang berlaku mengandung kunci yang menjadi pusat permasalahan kita kali ini. Kunci tersebut adalah pelaku yang menjadi bagian dari strukur media.

Reality show adalah buah dari berlakunya sistem yang mendukung struktur yang ada karena pelaku di dalamnya berupaya menahannya untuk bertahan, atau dengan kata lain pelaku membangun struktur di sistem tersebut.

“Reality show” pun buah dari pusat keingintahuan masyarakat yang semakin banyak karena era media baru.
Media baru adalah media yang terlepas dari media konvensional seperti koran, radio, dan televisi.

Internet terdapat di dalam media baru. Karakteristik internet adalah anonim dan hiperstruktur. Artinya, terdapat banyak informasi berlapis yang saling berhubungan maupun terpisah.

Keanoninam internet memungkinkan penggunanya mendapatkan informasi dari mana saja, apa saja, dan dimana saja, selagi dia mau dan mampu.

Semua itu menjadikan masyarakat memiliki kuasa atas informasi seperti belum pernah mereka dapatkan sebelumnya.

Kuasa atas informasi ini menjadi kekuatan yang mampu mengubah massa, namun menyebabkan massa dituntut menjadi gate keeper atas dirinya sendiri. Di sini, karakteristik komunikasi massa menjadi tidak berlaku lagi, karena tidak ada lagi lembaga yang benar-benar menyortir informasi kepada massa jika kita melihat internet sebagai sebuah media baru.

Apa hubungannya hal tersebut dengan reality show?

Keingintahuan warga menjadi meningkat dengan adanya informasi yang berlimpah ruah karena tersedianya akses internet. Hal tersebut menjadikan internet sebagai sebuah media yang “murahan”.

Keingintahuan warga menjadi semakin banyak dan mudah, sehingga dalam rincian tersebut, membuat informasi kehilangan status privilise dan eksklusifitas sebagaimana terdapat pada media lama.

Karakteristik reality show di Indonesia, sebut saja “Termehek-mehek” “Uya Juga Kuya” cenderung menampilkan sisi privat dari sosok yang menjadi peserta. Seingat pengalaman saya, reality show pertama di Indonesia, “Katakan Cinta,” terfokus pada pribadi seseorang dan tidak ada hubungannya dengan realitas sosial masyarakat dimana massa beraktivitas.

Semua itu diperparah menjadi sebuah pengulangan tema. Televisi pesaing membuat program reality show yang seragam. Penyeragaman ini membuat reality show menjadi sebuah pionir dalam industri hiburan pertelevisian tanah air. Sisi informasi kualitas tinggi diabaikan, penurunan derajat makna hiburan pun menjadi curam. Pada akhirnya, semua itu terekam dalam benak publik menjadi sebuah definisi hiburan yang nyata: minim informasi, nirlogika, sedikit kualitas dan mengejar sensasi belaka.

Pendefinisian ulang hiburan: mungkinkah?
Banyak yang tidak tahu karakter pertelevisian harus sesuai dengan kondisi sosial masyarakatnya. Sebagai contoh, di Spanyol, tayangan sejenis “Desperate Housewives” cenderung menonjolkan gaya cerita dan unsur tayangan barat, seperti seksualitas dan feminisme. Tayangan tersebut menjadi sensasi dan dalam suatu kurun waktu, sehingga para orangtua yang baru melahirkan bayi hampir semuanya memberi nama bayinya sama seperti pemeran di tayangan tersebut.

Di Indonesia, karakter pertelevisian yang harus sesuai dengan kondisi sosial masyarakatnya seakan diabaikan. Sebagai contoh, budaya timur yang mengandung unsur kekeluargaan. Kita lihat siaran televisi sekarang ini. Sekedar menyebut secara acak: “Awas Ada Sule,” “Tuyul dan Mbak Yul.” Semuanya representasi dari acara hiburan yang menonjolkan karikatur tokoh dan pemerannya. Kemana dengan “Keluarga Cemara” yang menonjolkan sisi moralitas terhadap kesetiaan dan rendah hati?

Lalu bentuk hiburan. Dalam hal bentuk hiburan, jalan tengah yang paling baik, menurut saya, jika harus menerima kepentingan pemodal dan kelompok pembuat sinema kreatif, adalah bentuk film pendek/bersambung.

Kenapa? Karena terdapat kesuaian yang terhubung antara iklan sebagai kepentingan pemilik modal dengan eksplorasi segi kreativitas sinema yang menurut saya, akan mendapatkan tempat terdalamnya dari segi kreativitas skenario dan sinema.

Sebuah jenis perencanaan tema yang mungkin saja akan kembali pada karakter pertelevisian budaya timur, oleh karena itu, akan menjadi hal yang bijak jika semuanya mengambil jarak terhadap berbagai kepentingan, dengan tetap menampilkan tema kontroversial secara cerdas dan bukan hanya berupaya menunjukan perbedaan secara ekstrim.

Senin, Maret 14, 2011

Kontemplasi #1

Hanya waktu. Hanya waktu yang bisa mengambil aroma masa depan yang belum matang dalam jaring pikiranku.

Aku, sebagai manusia, hanya mampu menjalani, apa yang sudah menjadi bahan dan bumbu makanan permainan kehidupan.

Tuhan mengerti, sebagai koki terbaik, apa yang harus diperlukan agar semua menjadi siap dalam beberapa tahun.
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

Rabu, Januari 12, 2011

Delapan: Kesalahan Program Acara Siaran Televisi, dari Sinetron ke Opera Sabun

Saya mengelompokkan seluruh program acara siaran televisi ke dalam dua jenis. Pengelompokkan ini semata-mata bertujuan memudahkan penjelasan mengenai kesalahan program acara siaran yang ada di televisi saat ini. Kedua kelompok tersebut adalah sinetron dan opera sabun.

Sinetron
Program acara televisi yang disebut sinetron adalah program utama (primetime) pada sebuah stasiun televisi hiburan utama. Kita bisa melihat contoh RCTI dan SCTV sebagai dua stasiun televisi hiburan utama di tanah air.

Opera Sabun
Opera sabun lebih banyak disiarkan oleh stasiun televisi di tanah air. Hampir seluruh stasiun televisi di tanah air memiliki program acara siaran berjenis ini. Karakteristiknya pun beragam. Pada opera sabun, kewajiban televisi dalam memasukkan unsur lokal mulai mendapatkan tempat, walaupun masih sebatas orientasi karikatural karakter tokoh semata. Contoh, Islam KTP di SCTV dan OVJ di Trans 7.

Kesalahan bukan Pembenaran
Apa yang dimaksud dengan kesalahan adalah sesuatu yang mungkin bisa diperbaiki dalam program acara siaran televisi. Kedua kelompok tersebut memiliki pembenaran yang juga khas.

Sinetron: lebih kepada alur dan tokoh
Sinetron sudah memiliki jenis skenario yang telah jauh melenceng dari pembelokan makna sebenarnya akan seni film. Dalam sinetron sekarang, makna film sebagai cerita gambar diturunkan menjadi sekadar makna oral (bertutur) sehingga apa yang harus dimengerti pemirsa dapat diketahui hanya dengan mendengar si tokoh bicara, dengan demikian esensi cerita sebagai gambar bergerak tidak berlaku lagi selain hanya sebagai properti skenario belaka. Kesalahan ini mungkin sengaja diperbuat sekadar menghasilkan sensasi dalam cerita, alur dan karakter tokoh yang semuanya mendukung sistem kapitalisme industri siaran televisi.

Opera Sabun: minim pilihan dalam hiburan
Opera sabun bisa disebut sebagai alternatif lain dalam mencari hiburan di televisi. Tapi, pilihan hiburan tersebut ternyata memiliki kritik yang sangat besar pada pencarian tema dan penjelasan kepada penonton lewat pembenaran moral. Moral dan etika negara saat ini sedang bobrok dilihat dari ketidakpercayaan publik terhadap politik, lembaga negara, dan perangkat negara. Di sebuah negara dengan demokrasi yang sudah sangat matang, unsur hiburan bisa dengan mudah menyatu dengan sebuah kritik yang menyinggung isu-isu sensitif, termasuk pribadi pimpinan negara. Tapi di sini, agaknya hal semacam itu masih dilihat sebagai sesuatu yang kurang menarik untuk dipikirkan, terimakasih kepada penangguhan penyelesaian kasus hukum besar seperti century yang sampai sekarang entah dimana hasilnya, kasus gayus yang makin hari makin bikin geleng-geleng kepala, semua itu menjadikan ruang publik terisi dengan guyonan yang sekadar sensasional (seperti pada sinetron) karena publik capek dengan segala sesuatu yang substansial karena hal tersebut dapat dinikmati lewat berita-berita, dan melihat kenyataannya, ternyata hal substansial tersebut--yang direspon positif oleh publik--ternyata mendapatkan peneguhan oleh pemerintah dengan penurunan makna hukum menjadi hampir nol.

Sabtu, Desember 11, 2010

Tujuh: Rahasia dalam Industri Perfilman, singkatkata

Industri film layar lebar dan sinetron Indonesia di awali dengan perkenalan di sebuah bioskop tua: gedungnya sepi penonton, hasil proyektor yang dipakai untuk menayangkan adegan demi adegan di layar putih tersebut sudah bergaris. Kursi penonton cuma tinggal separuh. Di bagian sayap kiri dekat pintu masuk bahkan beberapa kursi telah tercerabut dari beton yang menancapkannya dulu disana, bagian pantatnya hancur, menjadi beberapa bagian di sisi selatan bioskop tua tersebut: Rolex Estate namanya.

Diantara bangku kosong bioskop tua tersebut yang hanya ditonton oleh belasan, sebelas orang, terselip pemuda dungu, ringkih, sedang menatap serius ke layar putih tanpa kata. Entah telah berapa kali film tersebut diputar, menayangkan adegan-adegan Bruce Lee menendang lawannya sampai terjungkal.

Gerakannya kadangkali berpindah. Postur tubuhnya tidak nyaman, dagunya dipegangnya, pantatnya diangkat, lalu didudukan lagi. Tapi yang satu tidak berubah, mata dan mimik wajahnya mengatakan tidak pernah berpindah dari film yang ada di depannya.

Pemuda tersebut adalah Raam Punjabi, raja sinetron Indonesia kini, masih berusia 15 tahun dan baru pertama kali datang ke Jakarta. Minatnya terhadap film sudah diperoleh sejak usia delapan. Gairah tersebut ia khususkan lagi menjadi seorang pembuat film, bukan pemain film.

Ternyata, perkenalannya yang singkat dengan film tersebut berhasil. Dengan semangat luar biasa membara, ia tekadkan bulat diri untuk bertarung di dunia perfilman, yang pada waktu itu, tahun 1960-an, masih menjadi belantara asing dalam lahan industri kreatif Indonesia.

Bagaimana ceritanya, sehingga Raam Punjabi berhasil menjadi raja, atau kaisar—sebagaimana disebutkannya sendiri—sinetron Indonesia sekarang ini lewat PH Multivision Plus miliknya tersebut?

Saya tidak tahu. Tulisan ini secara khusus tidak akan membahas hal tersebut. Bentuk penulisan ini pun akan lebih berat sebelah ke tulisan artikel, bukan feature. Saya tidak pernah mewawancara Raam Punjabi. Lead tulisan yang saya tulis diatas pun lebih kepada omong kosong belaka. Tidak ada bioskop yang namanya Rolex Estate di Jakarta pada 1960-an.

Satu-satunya yang fakta mengenai Raam Punjabi di awal tulisan adalah satu hal, mengenai gairahnya akan film dan cita-citanya menjadi seorang produser, bukan pemain film. Omong-omong tentang Raam Punjabi, saya menjadi teringat tentang dunia sinetron Indonesia sekarang ini. Sebagai sebuah tontonan keluarga yang menjadi hiburan, dunia kreatif sinetron sungguh terjun bebas ke pretensi industri sederhana, lewat kapitalisme dunia siaran dan modal. Tidak adanya idealisme, itu yang menjadi kekhawatiran saya.

Raam Punjabi benar, ketika saya tahu dia bicara mengenai masyarakat sebagai sumber industri perfilman dalam mencari ide dan tema cerita. Dia hanya bicara sebagai bagian dari sebuah industri. Lantas, seperti apa bentuk yang ternyata masih harus dikompromikan antara industri dan nilai ideal yang seringkali abstrak?

Tidak tertutup, sebuah realitas justru terletak pada hal yang sederhana. Kita akan bicara mengenai hal ini nanti, saat setelah Raam Punjabi selesai menonton filmnya..

Senin, November 29, 2010

Enam: Kebebasan nilai Individu, potret dalam media program siaran televisi

Seperti kita ketahui terdapat nilai dan fungsi sosial televisi. Berbagai nilai dan fungsi sosial tersebut, pada dasarnya berakar pada pemaknaan televisi sebagai media komunikasi beranah dasar publik. Lihat manipulasi ruang publik lewat televisi.

Persoalan tiba ketika televisi melepaskan dirinya dari sebuah entitas nilai sederhana tersebut, yaitu publik. Ketika televisi mengubah dirinya menjadi kekuatan modal sederhana, publik sebagai akar televisi sebagai media komunikasi seakan terlupakan.

Kita ambil contoh:

Nilai-nilai dan norma-norma itu dirombak dengan sendirinya dan secara tidak sadar oleh acara-acara televisi dengan sifat-sifat media massa yang khas. Agaknya kita harus mengakui bahwa era baru telah datang, walaupun hal ini perlu penelitian lebih lanjut. Sebagai contoh, program realitas seperti termehek-meke, uya juga kuya dan ajang pencarian bakat sejenis Indonesian Idol dimana kompetisi menjadi “nyawanya”, di satu sisi memungkinkan orang untuk mencari jalan dan perspektif baru dalam meraih impian mereka. Namun, sekelompok orang yang belum tersentuh implikasi dan tidak mengerti maksud dan tujuan media massa secara sosial—katakanlah sekelompok masyarakat berpenghasilan rendah dan kurang secara pendidikan—dapat melihat fenomena ini sebagai tumbuhnya nilai-nilai yang sesuai bagi mereka. Hal ini, meminjam Roland Barthes, bisa dikatakan sebagai pemaknaan tanda berdasarkan pengalaman kultural seseorang yang pada akhirnya menghasilkan mitos.

Pertanyaan terbesarnya, dimana kebebasan individu mendapat tempat jika setiap orang mudah disetir karena nilai sesuai mudah diforsir dan dipreteli perangkat-perangkatnya? Sistem ideal belum berlaku.

Selasa, November 23, 2010

Edukasi yang Menggigit

Apa yang bisa membuat Jenny mengingat David?

poster_an_education

Itulah perkecamukan yang muncul dalam cerita film berdurasi sekitar 90 menit ini. An Education adalah sebuah film yang ditulis oleh Nick Hornby sebagai adaptasi memoir Lynn Barber, seorang jurnalis Inggris. Memoir tersebut berdasarkan kisah cinta masa sekolahnya. An Education dimainkan oleh Carey Mulligan yang tampil brilian sebagai remaja dewasa berusia 16 tahun bernama Jenny. Jenny memang masih anak sekolahan, tapi cara pikirnya seperti orang dewasa, bahkan terlalu maju untuk ukuran zaman itu. Mengambil latar pada 1962 di Inggris, Jenny awalnya hanya gadis remaja yang punya mimpi kuliah di Oxford, perguruan tinggi prestisius di Inggris.

Awalnya, ada cowok yang naksir dia. Si cowok ini, Graham (diperankan dengan cerdas oleh Matthew Beard), adalah cowok baik-baik, yang bisa dikatakan bukan kutu buku, tapi kurang pandai bergaul, sikapnya yang “kurang tegas sebagai lelaki” membuat Jenny berpikir dua kali untuk serius dengannya. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Tanpa sengaja Jenny bertemu David di jalan saat hujan dengan mobil bagusnya (selanjutnya diperkenalkan sebagai pebisnis properti dan seni). David yang jauh lebih dewasa daripada Graham dengan cepat membuat Jenny terpesona pada pertemuan pertama.

Pertemuan dengan David tidak cuma membuat Jenny “shok” secara umur, tetapi pergaulannya bersama kedua pasangan teman David, Danny (Dominic Cooper) dan Helen (Rosamund Pike) membuatnya memperoleh dunia yang sama sekali baru. Jika pada awalnya Jean cuma belajar bahasa Perancis dan Bahasa Latin untuk masuk Oxford, maka David memberikan pengalaman “dunia luar” padanya.

Jenny menjadi potret masyarakat Inggris pada saat itu, setidaknya itu yang ditampilkan lewat kesukaannya pada novel, bermain cello, terlahir dari ayah yang “membenci” Prancis dan mementingkan pendidikan anaknya. Lewat hal sederhana yang berputar pada diri Jenny inilah konflik bermula.

Pada awalnya David mendapat kesulitan untuk mengajak Jenny ke Paris, tapi kecerdasan David yang dalam film adalah seorang Yahudi (plus selalu disinggung terutama lewat percakapan antara David dan ayah Jenny), selalu mempermudah segalanya. Seiring berjalannya waktu, hati keluarganya (ayah dan ibu) Jenny pun terambil oleh David. Sehingga pada awalnya cita-cita Jenny masuk Oxford mulai ditinggalkan. David melamar Jenny, keluarganya setuju, sekolahnya berantakan, gurunya mulai resah karena prestasi Jenny turun, tapi semua orang sudah tahu, termasuk Graham, bahwa David lah alasan utamanya.

Menggigit

Kita tidak mengharapkan percintaan semacam Romeo and Juliet pada film ini, yang penuh dengan ekspresi romantis juga nyinyir, tapi sebuah edukasi menggigit yang cuma bisa diterka saat film mulai memasuki 15 menit terakhir. Tapi memang, selain waktu 15 menit itu, film ini sepenuhnya menjadi milik Carey Mulligan, yang dapat memerankan sudut pandang gadis 16 tahun yang terpesona pada kehidupan dewasa, lewat pengaruh kuat yang dibawa David, ekspatriat yang jatuh cinta padanya lewat pandangan pertama.

Disinilah peran kejeniusan Carey yang sangat menguasai karakter Jenny. Terlihat jelas oleh kita, Jenny hanyalah seorang gadis 16 tahun yang mudah tergoda oleh materi. Lewat David, Jenny mendapatkan segalanya. Di sinilah titik batin yang sangat mudah digodok oleh Lone Scherfig, sutradara film ini.

Namun yang paling menarik dari segalanya selain unsur drama dalam film ini yang bisa dikatakan “cukup menarik untuk membuat nyaman” adalah pesan moralnya. Kita tidak sedang melihat film percintaan romantis seorang remaja terhadap pria kaya dewasa, tetapi sebuah pertentangan antara pendidikan dan cinta sebagai masa depan, mana yang lebih penting?

Film ini dinominasikan oleh Academy Awards 2009 sebagai best pictures, best actress, dan best adapted screenplay.

Judul Film: An Education (2009)

Pemain: Peter Sargaard, Carey Mulligan, Olivia Williaws, Alfred Molina, Cara Seymour, William Melling

Sutradara: Love Scherfig

Penulis Skenario: Nick Hornby (diadaptasi dari memoir Lynn Barber)